Kronologi Al-Qur’an dalam Pandangan Sarjana
Barat dan Sarjana
Timur
Oleh: Indah Rhowdlotul Jannah
Seperti yang diketahui bahwa sejarah
penurunan Al-Qur’an yang dilaksanakan secara
berangsur-angsur selama 23 tahun, penurunan wahyu ini dimulai ketika
Nabi Muhammad SAW ketika beliau
diangkat menjadi Nabi sampai kehijrahannya ke Madinah. Namun saat- saat sekarang ini susunan Al-Qur’an yang
ada tidak berpijak kepada kronologi turunnya
wahyu, melainkan dikarenakan sebagian besarnya karena tersusun
berdasarkan urutan mushaf Usmani yang bersifat tauqifi.
Term kronologi menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan kata benda
yang mempunyai dua pengertian yaitu ilmu pengukuran kesatuan waktu seperti
dalam astronomi dan geologi. Dan
susunan urutan waktu dari sejumlah kejadian atau peristiwa, dalam kaitannya dengan Al-Qur’an yaitu
mengungkap susunan urutan waktu dari peristiwa
turunnya Al-Qur’an (nuzul Al-Qur’an) atau periodessi pewahyuan
Al-Qur’an. Periodesasi atau
penanggalan turunnya Al-Qur’an sangatlah berkaitan dengan beberapa cabang ilmu
Al- Qur’an mulai dari Makkiy-Madany, Asbab an-Nuzul, Nasikh Mansukh hingga
Tarikh Al- Qur’an. Sebab semua
cabangan ‘ulum Al-Qur’an tersebut berkaitan tentang waktu turunnya ayat-ayat
Al-Qur’an yang dapat
menjadi sumber penentuan teori kronologi Al-Qur’an. 1
Sejak awal studi tentang kronologi
Al-Qur’an telah menggunakan riwayat-riwayat sejarah
dan tafsir sebagai pijakan utama. Riwayat-riwayat tersebut kemudian
mengungkapkan bahwa beberapa bagian
dalam Al-Qur’an diwahyukan sehubungan dengan peristiwa tertentu. Hingga saat ini studi tentang
kronologi Al-Qur’an masih banyak dijumpai
kelemahan- kelemahan pada
riwayat-riwayat yang terhimpun dalam asbabun nuzul. Kelemahan ini tidak bisa dihindarkan, baik yang dilakukan oleh
sarjana tradisional Muslim maupun sarjana Barat yang melakukan upaya-upaya modern. Kelemahan ini disebabkan karena bahan yang dijadikan
landasan tersebut memiliki cacat yang mendasar. Seperti tidak lengkapnya
riwayat dan sedikitnya sebab-sebab
pewahyuan yang mendasari beberapa bagian Al-Qur’an, namun begitu meski terdapat anggapan bahwa
penyusunan rangkaian kronologis wahyu Al-Qur’an semacam ini tidak
akan pernah berakhir sempurna. 2
![]()
1 Ali Fitriana
Rahmat, Menimbang Teori Kronologi
Al-Qur’an Sir William Muir dan Hubbert Grimme, Al-Fanar: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Vol. 3,
No. 1, 2020, 58.
2 Moh. Pandu Agung Saputro,
Skripsi:” Konsep Kronologi Al-Qur’an
Menurut Richard Bell”, (Yogyakarta: UIN SUKA,
2017), 2.
Pada abad ke-19, ada dua model citra
dan persepsi Barat (Eropa) terhadap Islam. pertama,
menganggap Islam sebagai musuh dan rival kristen. Kedua, menganggap Islam sebagai bentuk pencapaian akal dan
perasaan manusia dalam usaha mereka untuk mengetahui dan merumuskan sifat Tuhan dan alam. Salah satu bentuk
permusuhan Barat terhadap Islam adalah
dengan menghina atau menjelek-jelekan Al-Qur’an tetapi tidak semua kalangan
Barat yang melakukan hal demikian.
Studi Al-Qur’an merupakan bagian dari Studi Islam yang sangat digemari di dunia Barat, kajian terhadap Al-Qur’an mulai
menarik perhatian di Barat ketika Theodor
Noldeke (1836-1930) menulis
buku sejarah Al-Qur’an
(Geschichtec des Qorans) yang kemudian diterbitkan pada
tahun 1860 oleh Universitas Gottingen, Jerman.
Noldeke membahas tentang
sejarah muncul dan berkembangnya teks Al-Qur’an, pengumpulan, dan periwayatannya. Ia juga
mempersalahkan mengapa susunan Al-Qur’an tidak sesuai dengan masa turunnya. 3
Muir dan Grimme seorang tokoh sarjana
Barat mempunyai dua teori kronologis yaitu:
pertama: versi Muir surah Makkiyah sebanyak 93 surah, sedangkan
madaniyah sebanyak 21 surah, kedua Versi Grimme surah Makkiyah
sejumlah 92 surah, sementara Madaniyah
sebanyak 22 surah. Ketiga, dari 21 dan 22 surah yang dimasukan oleh Muir
dan Grimme ke dalam golongan
Madaniyah tidak ditemukan perbedaan dengan kronologi yang diaransemen oleh para sarjanawan Muslim. Keempat,
usaha William Muir dan Hubbert Grimme dalam mengaransemen
kronologi Al-Qur’an bisa dikatakan sebuah improvisasi dar kronologi para pendahulunya, kelima. Penanggalan keduanya
pada periode awal terlihat begitu janggal dan
perbedaannya begitu mencolok
dengan para pendahulunya baik dari sarjanawan Barat maupun sarjana Muslim.4
Sejarah kajian Al-Qur’an di Barat
memang sangat menarik, karena peradaban mereka
juga banyak dipengaruhi oleh peradaban islam, awal mula kesejarahan
studi Al-Qur’an di Barat adalah lewat
tradisi penerjemahan. Terjemahan Al-Qur’an sangat membantu seseorang untuk memahami isi kandungan Al-Qur’an
meskipun tidak sepenuhnya. Abad ke 12 merupakan awal mula studi Al-Qur’an secara umum. 5
Berawal dari kerja keras
untuk melakukan penerjemahan terhadap ayat-ayat Al-
Qur’an, kajian-kajian sarjana barat atau para orientalis
terus mengalami perkembangan, tema
3 Muhammad Anshori,
“Tren-Tren Wacana Studi Al-Qur’an
dalam Pandangan Orientalis di Barat”, Nun,
Vol. 4, No. 1, 2018, 15.
4 Ali Fitriana Rahmat, “Menimbang Teori Kronologi Al-Qur’an
Sir William Muir dan Hubbert
Grimme”,........... , 70.
5 Muhammad Anshori, “Tren-Tren
Wacana Studi Al-Qur’an dalam Pandangan
Orientalis di Barat”,.......... , 40.
kajian mereka dikelompokan menjadi tiga tetapi yang paling
berpengaruh hanya dua yaitu karya
yang berusaha mencari pengaruh Yahudi-Kristen dalam Al-Qur’an, karya-karya yang mencoba membuat rangkaian kronologis
ayat-ayat Al-Qur’an, karya-karya yang bertujuan menjelaskan keseluruhan atau aspek-aspek tetentu saja dalam
Al-Qur’an. Adapun kategori kedua dari
konten kajian orientalis yaitu tentang kronologi ayat Al-Qur’an yang tidak
telepas dari simpulan pertama bahwa
Al-Qur’an merupakan ciptaan setelah kehadiran Muhammad. Hasil kajian orientalis sampai pada simpulan
bahwa ayat-ayat Al-Qur’an
banyak yang mengalami diskontinuitas. Hal itu
disebabkan orang-orang yang menyalin ayat-ayat tersebut tidak dapat membedakan bagian depan dan belakang dari
materi-materi di mana ayat-ayat tersebut pertama
kali dituliskan. Pandangan ini antara lain dikemukakan Richard Bell.6
Dari konten kajian orientalis tersebut
memancing reaksi dari kalangan sarjana muslim
seperti misalnya Fazlur Rahman mensinyalir bahwa kategori terkait
dengan tuduhan orientalis tentang diskontinuitas
ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana yang dikatakan Richard Bell sebagai bentuk ketidakmampuan orang-orang yang menyalin
ayat-ayat tersebut untuk membedakan
mana yang di depan dan mana yang di belakang. Rahman menegaskan bahwa kronologi
ayat demi ayat sebagaimana
yang digagas oleh Bell adalah mustahil. Demikian juga dengan kronologi
yang oleh R. Blachere, dinilai
bersifat subjektif karena hanya didasarkan pada perkembangan psikologi
Nabi Muhammad. Rahman berpandangan bahwa Al-Qur’an sendiri
merupakan argumentasi yang paling baik untuk menyangkal tesa-tesa kaum
orientalis. 7
Seorang sarjana Msulim A’zami
berpendapat tuduhan orientalis tentang kronologi Al- Qur’an mengarah pada usaha untuk mengubah Al-Qur’an. Upaya Flugel, Blachere,
dan Mingana menjadi
bukti betapa kuat keinginan mereka untuk merubah
dan merusak Al- Qur’an.
A’zami menyimpulkan bahwa Schacht, Wansbrough, Noldeke dan orientalis lainnya, walaupun dalam batas-batas tertentu
mengalami perbedaan, namun pasti melakukan
kecurangan jika ingin sukses dalam memalsukan Al-Qur’an.8
Jadi,
penyusunan rangkaian kronologis AlQur’an tidak akan pernah berakhir
sempurna. Namun demikian tidak sedikit para sarjana yang tetap
memperhatikan pada upaya penyusunan kronologi
AlQur’an dan studi
kronologi Al-Qur’an membutuhkan upaya-upaya
![]()
6 Moh. Khoeron, “Kajian Orientalis terhadap Teks dan Sejarah
Al-Qur’an Tanggapan Sarjana Muslim”, Suhuf, Vol. 3, No. 2, 2010, 238-241
7 Moh. Khoeron,
“Kajian
Orientalis terhadap Teks dan Sejarah
Al-Qur’an Tanggapan Sarjana
Muslim”,............ , 246
8 Moh. Khoeron,
“Kajian
Orientalis terhadap Teks dan Sejarah
Al-Qur’an Tanggapan Sarjana
Muslim”,............ , 247
kesarjanaan yang serius dan akan memakan waktu yang lama.
Kemudian di antara banyaknya para orientalis yang memiliki concern
di bidang kronologi
Al-Qur’an yang paling
berpengaruh adalah Richard Bell beliau merupakan salah satu orientalist
yang mempunyai keontetikan, pendekatan, kriteria aransemen terhadap kronologi Al-Qur’an yang cukup kuat.
Daftar Pustaka
Anshori, Muhammad. 2018. “Tren-Tren Wacana Studi Al-Qur’an dalam Pandangan
Orientalis di Barat”,
Nun, Vol. 4, No. 1
Khoeron, Moh. 2010. “Kajian Orientalis terhadap Teks dan Sejarah Al-Qur’an Tanggapan
Sarjana Muslim”, Suhuf, Vol. 3, No. 2
Rahmat, Ali Fitriana. 2020. “Menimbang Teori Kronologi Al-Qur’an
Sir William Muir dan
Hubbert Grimme", Al-Fanar: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan
Tafsir, Vol. 3, No. 1 Saputro, Moh. Pandu Agung.
2017. “Konsep Kronologi
Al-Qur’an Menurut Richard
Bell”.
Skripsi. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga
